Divisi Penelitian dan
Pengembangan (Litbang) adalah sebuah divisi yang disesuaikan dengan kebutuhan
anggota yang notabenenya adalah seorang mahasiswa, divisi Litbang dalam UKK KSR
PMI Unit IAIN Raden Intan Lampung memberikan wadah kepada pengurus serta
anggota untuk melakukan penelitian dan pengembangan seputar organisasi dan
dunia kepalangmerahan. Adapun penelitian yang dilakukan adalah penelitian tentang
materi kesehatan/kepalangmerahan, isu kemanusiaan, studi organisasi, persepsi
mahasiswa, dan pola kepemimpinan. Semua itu dilakukan dengan dasar tri darma
perguruan tinggi, karena sebagai relawan PMI Unit Perguruan Tinggi secara tidak
langsung telah memiliki tugas untuk mengabdikan ilmunya pada segala bidang yang
sedang dijalaninya.
Latest Post
Divisi Pendidikan dan Latihan
Divisi Pendidikan dan Latihan
(Diklat) dalam UKK KSR PMI Unit IAIN Raden Intan Lampung adalah divisi yang
membidangi seluruh jenis Pendidikan dan Latihan yang ada dalam Palang Merah
Indonesia, seperti halnya Pendidikan dan Latihan Dasar PMI, Pelatihan Dasar
Kepemimpinan, Pelatihan PP Lanjutan, ataupun Pelatihan Spesialisasi yang lainnya.
Divisi ini bertugas mengelola dan menjaga standar mutu pendidikan dalam
internal organisasi, yang tentu saja mengacu pada standar Pendidikan dan
Latihan yang telah dirumuskan oleh PMI. Dalam melakukan tugas kesehariannya,
divisi Diklat di bantu oleh divisi SDM, karena kedua divisi tersebut memiliki
beberapa tugas yang saling berkaitan.
Divisi Sumber Daya Manusia
Divisi Sumber Daya Manusia (SDM)
adalah salah satu divisi yang ada di UKK KSR PMI Unit IAIN Raden Intan Lampung,
divisi ini bertugas untuk memberdayakan, meningkatkan kapasitas, kualitas,
serta mengelola Sumber Daya Manusia yang ada dalam tubuh organisasi. Dalam
menjalankan dan menyusun program kerjanya, divisi SDM mengacu pada standar
keilmuan dan prinsip yang ada dalam Palang Merah Indonesia. Divisi SDM tidak
terbatas dalam peningkatan kualitas anggota dalam bidang kepalangmerahan saja,
namun juga memberikan wadah untuk mengembangkan bakat, kreatifitas serta
keterampilan anggota demi menunjang kompetensinya baik kampus, di dunia kerja
maupun masyarakat.
Sejarah PMI Lampung
Secara geografis, Provinsi Lampung terletak di ujung Pulau
Sumatera yang dahulu wilayah provinsi ini masih menyatu dengan Provinsi
Sumatera Selatan sehingga pemerintahan masih berada dalam satu kebijakan.
Begitu pula dengan kegiatan Organisasi Kemanusiaan seperti PMI. Pada tahun
1964, Provinsi Lampung memisahkan diri dari wilayah Sumatera Selatan, dengan
demikian PMI Provinsi Lampung pun mencoba berdiri sendiri, tidak berada dalam
wilayah Provinsi Sumatera Selatan.
Eksistensi PMI Provinsi Lampung pada awalnya bukanlah suatu hal
yang asing di wilayah ini dikarenakan sejak periode kemerdekaan, PMI telah
menjalankan tugas-tugas kemanusiaannya dengan misi menolong sesama yang
membutuhkan seperti pelayanan kesehatan umum, membuka Dapur Umum, menolong
korban perang dan melakukan hal-hal lain demi mendukung kemerdekaan Bangsa
Indonesia.
Secara resmi pada tahun 1968, PMI Provinsi Lampung memiliki
manajemen kepengurusan yang diketuai oleh Bapak Hi. R. Muhammad. Kemudian pada
tahun 1967 ketika masa jabatan Bapak Hi. R. Muhammad telah usai, tidak ada satu
orang pun yang menggantikan posisi beliau sehingga Kepengurusan PMI Provinsi
Lampung vakum hingga tahun 1985. Akibatnya seluruh PMI Cabang yang ada pun
mengalami nasib yang sama dengan PMI Provinsi Lampung.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Umum PMI, Bapak Dr. H.
Suyoso Soemodimedjo dengan mengirimkan surat kepada Gubernur Lampung melalui
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Bapak Alimuddin Umar, SH. untuk meminta
bantuan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Bapak dr. J. Jalins untuk
membentuk Kepengurusan PMI Lampung.
Oleh karena itu periode kepengurusan PMI Provinsi Lampung dibagi
menjadi beberapa periode sebagai berikut:
1.
Periode 1985-1989,
diketuai oleh Bapak dr. J. Jalins
2.
Periode 1989-1993,
diketuai oleh Bapak Fauzi Saleh
3.
Periode 1993-1998,
diketuai oleh Bapak Umar Hasan
4.
Periode 1998-2003,
diketuai oleh Bapak Umar Hasan
5.
Periode
2004-2009,diketuai oleh Bapak Umar Hasan.
6.
Periode 2009-2014,
diketuai oleh Bapak Umar Hasan.
POTENSI PMI PROVINSI
LAMPUNG
Saat ini, PMI Cabang yang ada di wilayah Provinsi Lampung
berjumlah 13 (Tiga Belas) PMI Kabupaten/Kota yang semuanya dalam kondisi aktif.
Dibawah ini keberadaan PMI Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi
Lampung :
1. Cikal bakal bangkitnya
PMI Cabang di beberapa Kabupaten/Kota di Wilayah Lampung diawali dengan
aktifnya PMI Cabang Kota Bandar Lampung pada tahun 1985.
2. Pada tahun 1988, PMI
Cabang Kabupaten Lampung Selatan
3. Pada tahun 1990, PMI
Cabang Kabupaten Lampung Tengah
4. Pada tahun 1989 PMI
Cabang Kabupaten Lampung Utara terbentuk.
5. Pada tahun 1993,
Kabupaten Lampung Tengah dimekarkan menjadi 3(tiga) Wilayah Kota/Kabupaten
yaitu Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung
Timur, sejalan dengan itu Pengurus
Cabang PMI Kabupaten Lampung Tengah dipecah menjadi 3(tiga) Pengurus Cabang yaitu
Pengurus Cabang PMI Kota Metro, Pengurus Cabang PMI Kabupaten Lampung Timur dan
Pengurus Cabang PMI Kabupaten Lampung Tengah.
6. Pada tahun 1998, PMI
Cabang Kabupaten Lampung Timur dan Way Kanan didirikan. Ke tigabelas PMI Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Lampung
sedikit demi sedikit mengalami perkembangan dan kemajuan baik dalam kuantitas
Staf dan Relawan yang ada maupun kemampuan dibidang materil dan non-materil.
Beberapa PMI Kabupaten/Kota mengalami kemajuan yang baik karena
didukung oleh pembinaan Daerah dan dukungan dari pihak donor melalui
program-program yang diberikan. Selain itu dukungan yang baik dari Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota menjadi pendorong aktivitas kegiatan. Kemajuan itu memberikan
dampak yang positif dan bernilai bagi baik perkembangan PMI Kabupaten/kota yang
ada di wilayah Lampung maupun PMI Provinsi sendiri.
B.2. Keberadaan Unit
Donor Darah (UDD) PMI
Saat ini, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia di
Provinsi Lampung yang dalam kesehariannya bernaung dibawah PMI
Kabupaten/kota berjumlah 8(delapan) Unit, antara lain:
1.
Unit Donor Darah Cabang
Pembina PMI Provinsi Lampung.
2.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kota Bandar Lampung.
3.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kota
4.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kabupaten Lampung Selatan.
5.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kabupaten Lampung Utara.
6.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kabupaten Tulang Bawang.
7.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kabupaten Lampung Tengah.
8.
Unit Donor Darah Cabang
PMI Kabupaten Lampung Timur.
Cerpen
Alhamdulillah, kami sebangsa senegara sedang bergembira. Gembira bukan sembarang. Kami mendapat anugerah yang membahagiakan. Jikalau kalian sebut anugerah itu berupa minyak bumi, palawija, kayu-kayuan atau hasil bumi yang lain, hah, kalian salah! Kami sudah punya semuanya itu dari dahulu kala. Pun kalian menduga anugerah yang kami maksud ialah sifat sabar, rela, ikhlas dan pasrah, hah, kalian lagi-lagi salah! Kami pula bersifat itu dari masa purba. Dan apabila kalian tebak sekali lagi anugerah itu berbukti kebebasan untuk melaksanakan hak azasi kami, hah, kalian tetap salah! Belasan tahun dari sekarang kami sudah mulai berhak dan berazas.Maka sebaiknya kami beritahu anugerah kepada kalian sesungguhnya:
Senja di Musim Kemanusiaan
Cerpen Karangan: MH Thamrin Hasibuan
Alhamdulillah, kami sebangsa senegara sedang bergembira. Gembira bukan sembarang. Kami mendapat anugerah yang membahagiakan. Jikalau kalian sebut anugerah itu berupa minyak bumi, palawija, kayu-kayuan atau hasil bumi yang lain, hah, kalian salah! Kami sudah punya semuanya itu dari dahulu kala. Pun kalian menduga anugerah yang kami maksud ialah sifat sabar, rela, ikhlas dan pasrah, hah, kalian lagi-lagi salah! Kami pula bersifat itu dari masa purba. Dan apabila kalian tebak sekali lagi anugerah itu berbukti kebebasan untuk melaksanakan hak azasi kami, hah, kalian tetap salah! Belasan tahun dari sekarang kami sudah mulai berhak dan berazas.Maka sebaiknya kami beritahu anugerah kepada kalian sesungguhnya:
Sebagai
negeri tropis, kami mengalami dua musim, musim penghujan dan musim kemarau.
Musim penghujan ialah ketika curah hujan di atas daratan dan lautan negeri kami
meningkat karena…hmm, untuk selanjutnya, juga pengertian musim kemarau tiada
perlu kami jelaskan. Sebab kalian sudah pasti mengetahui juga dari buku-buku
pelajaran di bangku sekolah. Dua musim itu kami saksikan sepanjang tahun dan
sepanjang puluhan abad.
Akan
tetapi kami mengalami satu musim lagi yang kalian merasa asing sama sekali.
Kami bersumpah, satu musim ini kalian tidak pernah sekali-kali mendapatkan
pengetahuannya dari ruang pendidikan. Namun, tidak usahlah mengiri terhadap
ketidaktahuan kalian, karena musim yang terakhir ini baru-baru kami ketahui
juga pada tahun-tahun belakangan. Sebaiknya kalian mempersiapkan tim periset
dari negeri kalian masing-masing untuk membantu kami menyusun pengetahuan
tentang satu musim itu supaya dapat dimasukkan ke dalam batasan ilmu tertentu.
Si
musim satu itulah anugerah kami. Tak mengerti kami dapatkan dari mana anugerah
itu, Tuhan kah yang memberi, kebetulan kah, rekayasa ilmuwan kami? Meski
mengerti pun tidak, kami mengalami musim itu. Oleh sebab pengetahuan kami masih
buram, nama musim pun belum kami buat sepakat. Tetapi untuk kalian, boleh saja
kami berikan nama sementara: Musim Kemanusiaan.
Musim
kemanusiaan belum lagi lama mendarat. Ini adalah saat-saat paling mengharu-biru
dan membahagiakan. Pada musim tiba, tiada satu kesusahan nampak berat pada
kami. Satu manusia kesulitan, apalagi lebih, manusia lain menolong. Si sulit
dan si penolong sungguh tidak saling mengenal. Mereka diperkenalkan oleh musim
kemanusiaan belaka.
Beberapa
waktu lalu, seorang dari kami yang hijrah ke Timur Tengah untuk bekerja
mengalami musibah. Ia dituduh membunuh seorang tuan kerjanya. Tuduhan yang
mengakibatkan dirinya dibayang-bayangi hukuman mati oleh pengadilan negara
setempat. Kabar musibahnya cepat sekali sampai di negeri kami. Keberuntunganlah
bagi saudara kami di seberang karena musibah terjadi saat musim kemanusiaan.
Para penolong bermunculan secepat berita yang sampai itu. Tenaga, uang, pikiran
dikeluarkan tanpa keluh kesah. Walhasil, saudara kami batal diperhadapkan
kepada barisan algojo. Ia akhirnya dipulangkan setelah mahkamah memutuskan
dirinya tidak terbukti melakukan pembunuhan terhadap tuan kerjanya.
Usai
penderitaan yang satu, yang lain tinggal menyusul. Terjadilah tanpa diduga-duga
bencana alam banjir bandang akibat kebotakan hutan di pedalaman Sumatera Utara.
Empat desa habis dihajar air bah. Seratus jiwa lebih tewas dan dua kali
lipatnya lagi hilang terbawa arus. Anak-anak kehilangan induknya, rumah tinggal
ambruk berkalang lumpur dan wabah penyakit siap mengancam. Cukup beberapa jam
setelah berita bencana, kapal terbang pengangkut bantuan segera melepas pacunya
dari bandara Halim. Penolong serba-serbu menyuarakan keprihatinan di beragam
media massa, disusul pertolongan uang, tenaga dan pikiran.
Banjir
di Sumatera meringkus banyak nyawa. Namun demikian semuanya disantuni,
rumah-rumah yang hancur dibangun segera, posko pengungsian menyediakan segala
keperluan, dokter-perawat dan obat-obatan diberangkatkan sesuai butuhnya,
anak-anak korban disediakan sekolah sementara. Dengan begitu bencana maha
dahsyat terasa tidak begitu parau di dalam dada para korban.
Urusan banjir di pedalaman Sumatera belum kelar, kebakaran hebat
melanda Jakarta. Sebuah pemukiman yang terkenal sebagai paling padat Sebenua
Asia serta merta menghangus jadi arang. Kebakaran tak sanggup melahirkan korban
jiwa, tetapi cukup membuat 120 rumah tinggal cerita dan 500 lebih manusianya
terancam jadi gelandangan.
Untuk sekian kali musim kemanusiaan mengirimkan para penyelamat. Kamp pengungsi korban kebakaran berdiri seketika. Sebagian diinapkan di tenda-tenda yang layak, sisanya dialihkan ke sebuah rumah susun milik negara. Dan keprihatinan menjadi hukum yang wajib diutarakan seluas-luasnya oleh para penolong, lewat televisi, koran, majalah, radio dan internet.
Untuk sekian kali musim kemanusiaan mengirimkan para penyelamat. Kamp pengungsi korban kebakaran berdiri seketika. Sebagian diinapkan di tenda-tenda yang layak, sisanya dialihkan ke sebuah rumah susun milik negara. Dan keprihatinan menjadi hukum yang wajib diutarakan seluas-luasnya oleh para penolong, lewat televisi, koran, majalah, radio dan internet.
Kebakaran
pemukiman pada akhirnya berlalu kisahnya. Rumah-rumah baru lekas didirikan,
berkat para penolong di musim kemanusiaan. Sementara beribu kilometer dari
Jakarta, rumah baru bagi penderita banjir bandang nyaris selesai
pembangunannya.
Hufh,
andai saja kalian dapat melihat sendiri, betapa musim kemanusiaan lambat laun
sedang menggapai puncaknya. Derita anak manusia sebagian menjadi derita pula
bagi sebagian yang lain. Pendek kata, di negeri kami saat ini, tak boleh
dibiarkan manusia sengsara seorang atau sekelompok diri. Satu jiwa manusia
adalah jiwa bagi manusia selebihnya. Tentu sangat sukar kalian
membayang-bayangkan musim kemanusiaan ini kecuali melihat dengan mata kalian
sendiri.
Cerita
yang kami sampaikan singkat di atas sebetul-betulnya hanya contoh kecil tak
seberapa. Dalam musim kemanusiaan anak yang putus sekolah segera disambung
pendidikannya, yang hidup dicukupi, yang mati diurus kematiannya, yang hilang
pekerjaan langsung diganti dengan pekerjaan baru, yang kehabisan modal
berdagang ditolong permodalannya dan yang sakit segera diupayakan sembuh
penyakitnya.
Sungguh,
kami tak akan menceritakan yang lebih besar kepada kalian, takut-takut kalian
justru menganggap kami menceritakan takhayul. Musim kemanusiaan terus berjalan
bersama duta kemanusiaan yang diutus untuk menolong kesulitan sesama.
Namun begitu kami belum lagi mengerti hakikat musim kemanusiaan.
Oleh sebab itu kami bercerita kepada kalian supaya kalian dapat ikut serta
memikirkan:
Musim kemanusiaan mengapa datang hanya lima tahun sekali? Bukan lebih baiknya setiap tahun kami merasakan? Kami percaya kehadiran sang musim agung itu ditandai oleh semakin dekatnya masa pergantian juru kelola negara. Selebihnya kami ragu.
Musim kemanusiaan mengapa datang hanya lima tahun sekali? Bukan lebih baiknya setiap tahun kami merasakan? Kami percaya kehadiran sang musim agung itu ditandai oleh semakin dekatnya masa pergantian juru kelola negara. Selebihnya kami ragu.
Kalian,
rupa-rupanya musim kemanusiaan itu menghendaki berkibarnya panji-panji. Para
utusan kemanusiaan itu datang bersama panji yang dibawanya. Di dalam panji itu
terdapat warna-warna dan gambar-gambar tertentu. Bagaimana pun, mereka
nampaknya menolong dengan sangat tulus dan kami yang ditolong menyambutnya
dengan teramat berbahagia. Mereka adalah dewa penyelamat kami dari jurang
kesusahan. Jadi betapa perkataan mereka, akibat pertolongan sebegitu besar
telah diberikan, kami pun mengamininya sebagai balas terima kasih.
Satu
ucapan terima kasih dari kami yang mendapat pertolongan dapat kalian lihat pada
sederet rumah-rumah baru di pedalaman Sumatera dan pemukiman padat Jakarta yang
kami ceritakan tadi. Tembok rumah-rumah baru sebagian kami dibiarkan dicat
dengan lukisan wajah duta kemanusiaan supaya tidak kami lupakan pertolongan mereka.
Wajah, bersama warna dan gambar panjinya. Beragam rupa warna dan lambang panji
mereka. Merah, kuning, hijau, biru, putih bersama lambangnya sendiri-sendiri:
banteng, kayu beringin, dua bulan sabit bertolak belakang, Ka’bah, lambang
mobil Mercedes Benz, matahari, kepala burung rajawali, bola dunia tersimpul
tali serta lain-lain. Itu saja pernyataan terima kasih kami yang rasa-rasanya
sangat kecil dari pada pertolongan mereka
Tahun
tidak terasa telah berganti yang baru. Musim kemanusiaan sedikit lagi memuncak.
Duta kemanusiaan kian meramaikan negeri kami. Penderitaan manusia semakin tidak
mendapat kesempatan berkembang. Di mana timbul susah, di situ muncul penolong.
Rumah-rumah dan pakaian kami dipenuhi banyak gambar duta kemanusiaan.
Belakangan,
kami bertambah tidak mengerti. Lebih banyak penolong jumlahnya dari pada yang
mendapat derita. Penderitaan tiada mudah dijumpai di negeri kami pada puncak
musim kemanusiaan. Sementara kelompok duta kemanusiaan sudah terlanjur ingin
memberikan pertolongan.
Maka tidak disengaja sebetulnya bahwa kami mendengar desas-desus
dari angin yang mengabarkan lebih atau kurang seperti ini:
“Bagaimana jadinya sekarang, tak ada lagi yang membutuhkan
pertolongan. Semua orang berbahagia. Semakin jarang pertolongan kita dibutuhkan
manusia lain. Kan, musim kemanusiaan belum selesai?”
“Ah, kau. Mudah saja, bukan. Tinggal lagi kita rancang suatu
kesusahan buat orang lain, lalu kita dapat menolongnya lagi. Setuju?”
Dan
setelah kabar angin itu—kami belum memeriksa kefasihannya, kebakaran melanda
lagi rumah-rumah di Jakarta. Dari negeri kami sebelah timur yang sejak dahulu
terkenal tenggang rasa merebak kerusuhan yang katanya dipicu sentimen agama.
Tak begitu jauh dari Jakarta, kerusuhan satu agama berbeda paham meledak
seperti letusan gunung. Di Jakarta sendiri, selain kebakaran kerap terjadi
pembunuhan oleh kelompok-kelompok liar yang sama sekali tidak diketahui akar
rumput persoalannya. Dan semua yang kami maksud tentu saja mendulang
penderitaan sangat besar.
Kemudian hari, bersama panji-panji di belakangnya, kami dapat
melihat duta kemanusiaan datang silih berganti membawakan pertolongan. Semua
demi musim kemanusiaan yang sebentar lagi mungkin berakhir.
Kami sedang memperhatikan senja di musim kemanusiaan.
Sungguh-sungguh harus diakui kami tidak mengerti terhadap musim yang satu ini.
Dari itu kami rasa sangat penting menceritakannya kepada kalian, barangkali
kalian akan dapat lebih mengerti.
Pejaten,
2013
(Senja
Di Musim Kemanusiaan merupakan salah satu cerpen MH Thamrin Hasibuan dalam buku
antologi cerpen Pasca Kematian Paman Gober, Indie Book, Yoyakarta, 2013)
Label:
Cerpen
Puisi
Sajak Alif
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
kautulis kearifan pada alif
huruf pertama panggilanmu
gerbang terdepan ke taman hatiku
ketika sunan kalijaga
menggembala umatnya
alif pun menjadi tongkatnya
pada tongkat isa tertulis cinta-kasihmu
pada tongkat musa terukir keajaibanmu
ketika tongkat mengetuk batu
mata air pun terpancar
darah abadi bagi kehidupan
kautulis kemuliaan pada alif
huruf terdepan panggilanmu
kauturunkan alif dari arasy ke bumi
debu pun menjelma kemuliaan sejati
alif terbentang di hati orang pilihan
jalan lurus menuju haribaanmu
1987
Label:
Puisi
Catatan Relawan
11 Tahun
sudah lamanya, 11 Tahun telah berlalu, namun teriakan itu masih jelas terngiang
di telingaku, suara suara jeritan meminta pertolongan masih terekam dalam
memoriku waktu itu, ya itulah pagi Minggu yang mencekam, yang berhasil merubah
semua cerita tentang masa depan.
Merengkuh Peristiwa
11 Tahun
sudah lamanya, 11 Tahun telah berlalu, namun teriakan itu masih jelas terngiang
di telingaku, suara suara jeritan meminta pertolongan masih terekam dalam
memoriku waktu itu, ya itulah pagi Minggu yang mencekam, yang berhasil merubah
semua cerita tentang masa depan.
Pagi itu
deburan ombak yang selama ini kuanggap teman menjadi musuh yang begitu
menyeramkan. Kau datang begitu cepat, bahkan kau tak memberiku waktu untuk
mendengar marah dari ibuku, tangis dari adikku, kau datang begitu cepat
mengagetkan, membuatku tersentak, tak memberiku peluang tuk berucap maaf pada
wanita pertama yang menjadi cintaku, kini 11 tahun berlalu kenangan tentangmu
takkan terhapus dari benakku, ku tak membencimu, ku tak dendam padamu, ku tau
kau telah membawa sang ibu, maka izinkan aku bercerita tentang getirku saat kau
rengkuh aku dalam ombakmu
Oleh: Cut Habibi
Label:
Catatan Relawan
Diberdayakan oleh Blogger.






